Kubah Masjid Tiban Pangkah Gresik

Ujungpangkah merupakan salah satu kecamatan di wilayah kabupaten Gresik yang berada di wilayah paling utara kabupaten Gresik. Harga Kubah Masjid Modern. Banyak peninggalan dan situs-situs bersejarah yang terdapat di wilayah Ujungpangkah. Salah satu peninggalan bersejarah yang ada di Ujungpangkah adalah masjid Tiban Pangkah atau kini dikenal dengan nama Masjid Ainul Yakin Ujung Pangkah.

Kubah Masjid Tiban Pangkah Gresik

Berbeda dengan masjid masjid di tanah Jawa lainnya yang disebut sebagai masjid tiban karena tidak diketahui kapan berdirinya atau tiba tiba sudah berdiri di suatu tempat tanpa diketahui asal usulnya, Masjid Tiban Ujung Pangkah ini disebut masjid tiban karena bahan bahan kayu jati yang digunakan untuk membangun masjid ini pada awalnya muncul dengan tiba tiba.

Menurut Syekh Muridin, keturunan kelima Jayeng Katon bin Sunan Bonang Tuban, dalam buku Primbon Sunan Bonang bahwa bahan-bahan masjid Ujungpangkah itu kiriman dari Sunan Bonang Tuban. Sunan Banang mengirim bahan-bahan masjid yang berupa kayu gelondongan kepada putranya Jayeng Katon yang telah lama bermukim di Ujungpangkah dan sebagai penyebar agama Islam di Ujungpangkah.

Arsitektur Masjid Tiban Ainul Yakin Ujung Pangkah

Masjid Tiban Ujung Pangkah berukuran 12 m x 12 m dengan empat tiang sokoguru, dan 32 pilar. Di tengah-tengah masjid terdapat tangga untuk ke atas menara. Masjid itu dinamai masjid Jamik artinya masjid untuk berjamaah Jumat. Masjid itu berpagar tembok keliling dengan satu pintu gapura. Pintu itu bentuknya mirip dengan pintu gapura memasuki kompleks pemakaman Sunan Bonang.

Di pintu masuk terdapat batu hitam berukuran 1,5 m x  0,30 m x 0,15 m. Konon Batu itu sejenis dengan batu yang digunakan untuk membangun Kakbah di Mekkah. Batu hitam itu disandingi dengan batu berbentuk keris. Batu itu replika keris Aji Saka.

Mimbar masjid ini yang merupakan hadiah dari Sunan Giri  terbuat dari kayu jati dengan candra sengkala naga kale warni setunggal ( tahun 1428 saka/ 1506 masehi/ 911 hijriah). Masjid itu juga dilengkapi dengan beuk (Jawa: jidor) dan kentongan yang terbuat dari kayu jati

Di timur Masjid terdapat alun-alun yang ditanami lima pohon beringin. Adanya Lima pohon beringin itu menandakan sebagai tempat berteduh atau bernaung. dan Berjumlah lima memiliki arti yang melambangkan lima rukun Islam. Lima pohon beringin ini telah mengisyaratkan lima putra Jayeng Katon yang siap membawa masyarakat Ujung pangkah di bawah perlindungan ajaran Allah yakni agama Islam.

Dari Kelima putra dari Jayeng Katon inii menjabat sebagai penerus perjuangan yakni adalah Pendel Wesi, Jaka Karang Wesi, Jaka Berek Sawonggaling, Jaka Sekintel alias Cinde Amo, dan Jaka Slining alias Jaka Tingkir. Kelima putra Jayeng Katon mengikuti jejak abahnya dalam mengembangkan Islam. Mereka juga mendirikan pondok sebagai sarananya. Pendek Wesi mendirikan pondok Bekuto di Bekuto Ujungpangkah, Jaka Karang Wesi mendirikan pondok Rebuyut di Rebuyut Ujungpangkah, Cinde Amo mendirikan pondok Unusan di Unusan Ujungpangkah, dan Jaka Slining mendirikan pondok Sabilan di Sabilan Ujungpangkah. Jaka Berek Sawonggaling mengasuh pondok Pangkah menggantikan Jayeng Katon.

Suatu hari ada seorang tamu dari Aceh. Orang Ujungpangkah memanggilnya Syeh Aceh. Ia pergi bersilaturrahim ke pondok-pondok keluarganya yang berada di pulau Jawa. Ia kunjungi pondok Sunan Ampel Surabaya, pondok Sunan Bonang Tuban diteruskan ke Pondok Pangkah. Sampai di Pondok Pangkah, ia tidak bertemu dengan Jayeng Katon, putra Sunan Bonang ,karena Jayeng Katon sudah wafat. Ia hanya bertemu dengan anak dan cucu Jayeng Katon. Syeh Aceh mengunjungi pondok-pondok anak cucu Jayeng Katon.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *