Masjid Agung Baitunnur Pati

Masjid Agung Baitunnur

Merupakan masjid agung yang berada di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Lokasinya berada di bagian sisi sebelah barat alun alun di pusat kota Pati, tempat yang lebih dikenal oleh masyarakat dengan nama Simpang lima. Di sisi utara alun alun kota Pati ini berdiri terdapat sebuah Kantor Bupati Pati dan Gedung DPRD Kabupaten Pati. Masjid ini juga dilengkapi dengan Gedung Islamic Center Kabupaten Pati yang berada di bagian belakang bangunan utama masjid, yang terhubung langsung ke teras dan kolam yang beralaskan tatanan batu batu kerikil yang memberikan efek refleksi telapak kaki bagi siapa saja yang melaluinya.

Masjid Agung Baitunnur Pati

Hampir keseluruhan bangunan dari masjid ini mengkombinasikan dengan apik antara marmer putih pada lantai dan bagian dinding di depan yang berpadu dengan ornamen kayu berwarna coklat tua.  Masjid Agung Baitunnur ini merupakan salah satu Maha Karya dari Sang maestro arsitek Indonesia, Prof. Muhammad Nu’man yang lebih dikenal dengan karya karyanya termasuk Masjid Indonesia yang ada di Bosnia Herzegovina,lalu juga ada Masjid Agung At-Tien, Masjid Islamic Center Jakarta dan masih banyak lainnya.

Sejarah Masjid Agung Baitunnur Pati

Masjid Agung Baitunnur Pati didirikan pertama kali oleh Raden Adipati Aryo Condro Adinegoro yang mempunyai nama  asli Raden Bagus Mita. Yang berkuasa di tahun 1829-1895 M. Pembangunan Masjid Baitunnur ini dimulai sejak  tahun 1261 H atau 1845 M sebagaimana dijelaskan dalam prasasti yang berbentuk kaligrafi milik Masjid Agung Baitunnur Pati yang sekarang berada di Masjid Gambiran. Kaligrafi tersebut berbunyi: “ibtidaa’u binaa’i hadza al-masjid fii sanah 1261 H / 1845 M”. (artinya: Awal Pembangunan Masjid ini di lakukan di Tahun 1261 Hijriyah bertepatan dengan Tahun 1845 Masehi)

Dahulu Atap Masjid ini berundak seperti Masjid Agung Demak dan masjid-masjid kuno di Jawa Tengah yang dibangun oleh para wali, berupa atap limas mirip sekali seperti piramida di mesir bersusun atau berundak undak yang terdapat pula di rumah-rumah di tanah jawa kuno, bentuk atap seperti itu memang merupakan bentuk khas masjid – masjid tua tanah Jawa yang kini sudah menjadi ciri khas arsitektur masjid di Nusantara.

Kemudian pada tahun 1289 H / 1969 M atau 124 tahun setelah pembangunannya, masjid Agung Baitunnur Pati ini kemudian direnovasi,sebagaimana dijelaskan pada Tulisan Arab di sebelah kiri Prasasti Kaligrafi yang sama yang berbunyi “tajdiid wa tausii’u hadza al-masjid fii sanah 1389 H / 1969 M” (artinya: renovasi dan perluasan Masjid ini adalah pada Tahun 1389 Hijriyah yang bertepatan dengan Tahun 1969 Masehi), Pada masa itu Kabupaten Pati berada dibawah di bawah kekuasaan A.K.B.P. Raden Soehargo Djojolukito yang  menjabat tahun 1967-1973 M.

Bentuk bangunan masjid sedikit berubah, atap masjid yang sebelumnya tanpa kubah kemudian memiliki kubah di atasnya. Atap nya berundak dan bentuk masjid masih dipertahankan. Menara depan masjid yang sebelumnya di renovasi berdiri gagah sudah tidak tampak lagi.

Rancangan Prof. Muhammad Nu’man

Pada tahun 1979 masjid Agung Baitunnur Pati direnovasi untuk kedua kalinya di akhir masa Jabatan Bupati Kol. Pol. Drs. Edy Rustam Santiko yang kala itu menjabat Bupati dari Tahun 1973-1979 M. Pembangunan nya Selesai pada tahun 1980 M yang pada saat itu Bupati Pati dijabat Kol. Inf. Panoedjoe Hidayat. Desain masjid ini pada renovasi kedua ini dilakukan oleh Nu’man dari ITB Bandung. Desain Masjid Agung Baitunnur Pati pada akhirnya berubah total dari desain sebelumnya.

Desain Masjid Agung Pati yang sebelumnya berundak dan berkubah, setelah direnovasi pada 1979 M, atap Masjid tidak lagi berundak dan juga tidak berkubah. Rancangan bangunan Masjid tersebut terkesan desain minimalis dan bertahan sampai sekarang ini. Sebuah menara tunggal kini juga berdiri kokoh dan menjulang disamping bangunan utama masjid.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *