Mendengar Khutbah Jumat Singkat di Malaysia

Mendengar Khutbah Jumat Singkat di Malaysia

Mendengar Khutbah Jumat Singkat di Malaysia

Saya dibawa dari bandara ke kantor polisi, lantas ke stasiun beda. Pada akhirnya, saya dibawa ke markas JAWI, tempat saya dikurung dan mendengar Khutbah Jumat Singkat. Supaya adil, tidak ada yang kasar padaku, terlebih kejam. Tetapi, saya terasa tertekan : Saya di tangkap di satu negara asing yang hukum serta bahasanya tidak saya tahu. Saya tidak paham apa yang juga akan berlangsung pada saya – serta, yang paling menyakitkan, saat saya lihat istri saya, Riada, anak lelaki berumur 2 th. kami, Levent, serta bayi kami yang berumur 2 bulan, Efe.
Pagi hari, saya dibawa ke pengadilan syariah, yang dipakai di Malaysia untuk mengadili problem agama, dimana saya diinterogasi sepanjang dua jam. Selanjutnya, saya terperanjat, saya dilepaskan. Selekasnya saya ketahui kalau ini begitu difasilitasi oleh usaha diplomatik negara saya, Turki – serta terlebih kontak yang dikerjakan oleh seseorang bekas presiden Turki, Abdullah Gul, dengan royalti Malaysia.
Peristiwa ini tunjukkan pada saya lagi kalau ada problem besar dalam Islam sekarang ini : semangat untuk memaksakan agama, serta tidak cuma menyarankannya, alur fikir yang umumnya orang Kristen ketinggalan ketika Inkuisisi.
Untungnya, ada antidot dalam Khutbah Jumat Singkat Islam untuk problem ini. Salah nya ialah ayat Alquran kalau petugas JAWI berkali-kali mencaci saya karna berani melafalkan : ” Tak ada paksaan dalam agama. ”
Sesungguhnya, kebiasaan Muslim arus paling utama, yang mencerminkan konteksnya yg tidak liberal, tidak sempat seutuhnya menghormati kebebasan yang tersirat oleh ayat ini – serta yang lain mempunyai pesan sama. “The ‘ada paksaan’ ayat problem dengan penafsir awal, ” seperti Patricia Crone, seseorang sarjana histori Islam, sudah mencatat. ” Serta mereka bereaksi dengan menafsirkannya dengan terbatas. ” Ayat itu dinyatakan ” dibatalkan “, atau ruangan lingkupnya begitu terbatas.
Hal semacam ini masih tetap tampak dalam nubuat yang terus-terusan dimasukkan kedalam terjemahan ayat itu. ” Akan tidak ada paksaan dalam agama (untuk jadi seseorang Muslim). ” Saya ketahui kalau terjemahan Saudi memberikan kalimat penambahan itu diakhir. Saat ini saya sudah belajar kalau pihak berwenang Malaysia juga mengerjakannya. Mereka memberikan frase penambahan karna sesaat mereka sepakat dengan Quran kalau tak ada yang perlu dipaksa untuk jadi seseorang Muslim, mereka berfikir kalau umat Islam mesti dipaksa untuk mempraktikkan agama – seperti yang diterangkan di Khutbah Jumat Singkat. Mereka juga yakin jika umat Islam mengambil keputusan untuk meninggalkan agama mereka, mereka mesti dihukum karna ” murtad “.
Satu diantara perwira di persidangan pengadilan Syariah Malaysia saya dengan bangga menyebutkan pada saya kalau semuanya dikerjakan untuk ” membuat perlindungan agama. ” Namun saya mempunyai pesan perlu untuk dia (yg tidak saya berikan ketika itu) : Dengan memusatkan agama, pihak berwenang tidak betul-betul melindunginya. Mereka cuma merampas orang-orang mereka, menghidupkan beberapa orang munafik serta mengakibatkan beberapa orang kehilangan keyakinan atau penghormatan mereka pada Islam.
Saya mulai tahu kalau waktu saya ditahan di markas JAWI, dengarkan pembacaan Alquran keras yang datang dari kamar samping. Saya mendengar Khutbah Jumat Singkat Quran serta untuk pertama kalinya dalam kehidupan saya kedengarannya seperti nada seseorang penindas. Namun saya tidak menyerah pada kesan itu. ” Saya mendengar Anda serta saya yakin pada Anda, Tuhan, ” kataku waktu saya berdoa, ” walau beberapa orang fanatik ini melakukan tindakan atas nama Anda. “

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *